Selasa, 30 Agustus 2022

Tujuan Kedatangan Bangsa Spanyol ke Indonesia

 Tujuan Kedatangan Bangsa Spanyol ke Indonesia



Setidaknya mulai abad 15 Masehi, bangsa-bangsa Eropa mulai berlomba-lomba melakukan pelayaran menjelajahi samudera untuk menemukan dunia baru. Tujuan awal bangsa-bangsa Eropa, termasuk Spanyol, mencari daratan baru itu adalah untuk menemukan kepulauan sumber rempah-rempah.


Saat itu, rempah-rempah menjadi komoditas mahal di Eropa, terutama karena berfungsi sebagai bahan pengawet makanan. Pengawetan makanan penting bagi masyarakat Eropa kala itu untuk mencegah kelaparan ketika musim dingin berlangsung.


Penjelajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa dilakukan setidaknya karena 2 peristiwa politik penting, yakni kekalahan kerajaan-kerajaan Katolik Eropa di Perang Salib dan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani.


Perang Salib memporak-porandakan jalur perdagangan Eropa dan Asia karena berlangsung di perbatasan 2 benua tersebut. Selain jalur perdagangan, keadaan ekonomi kerajaan-kerajaan Eropa pun menjadi terpuruk. Kas mereka menyusut drastis karena besarnya biaya perang.


Berselang 2 abad setelah Perang Salib selesai, kota Konstantinopel (sekarang Istanbul) jatuh ke tangan imperium Turki Usmani (Ottoman). Hal ini adalah kabar buruk bagi kerajaan-kerajaan di Eropa karena kota tersebut menjadi titik penting jalur perdagangan antar-benua (Eropa dan Asia).


Jatuhnya Konstantinopel ke tangan imperium Turki Usmani di tahun 1453 merupakan faktor penting yang paling utama mendorong pelayaran bangsa-bangsa Eropa ke negeri-negeri jauh.


Sejak Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani, bangsa-bangsa Eropa kesulitan mencari akses perdagangan ke Asia. Sultan Muhammad II melarang pedagang-pedagang dari Eropa masuk ke Konstantinopel (Istanbul).


Padahal, kota itu menjadi pintu masuk ke jalur perdagangan dengan orang-orang Asia, terutama para penyuplai rempah-rempah. Karena itulah, bangsa-bangsa Eropa mengerahkan para pelautnya untuk berlayar mengarungi samudera demi mencari jalur perdagangan baru, sekaligus menemukan kepulauan sumber rempah-rempah.


Di antara bangsa-bangsa Eropa yang paling aktif merintis pelayaran untuk menemukan "dunia baru" itu adalah Spanyol dan Portugis. Namun, keduanya sempat berselisih mengenai jalur pelayaran yang akan ditempuh.


Akhirnya, pada 7 Juni 1449 ditandatangani Perjanjian Tordesilas, yang isinya membagi dunia menjadi dua wilayah kekuasaan dengan garis yang membentang dari Kutub Utara menuju Kutub Selatan.


Berdasar perjanjian Tordesilas, area pelayaran Bangsa Spanyol melewati jalur barat. Salah satu pelayar termasyur yang dimiliki Spanyol adalah Christoper Colombus, yang “menemukan” benua Amerika. Adapun Portugis mendapat jatah area pelayaran melewati jalur timur yang membuat mereka lebih cepat menemukan kepulauan sumber yang menjadi sumber utama rempah-rempah, yakni nusantara.


Tujuan Kedatangan Bangsa Spanyol ke Indonesia


Para penjelajah dari Bangsa Spanyol pertama kali datang ke Indonesia (nusantara), tepatnya di Maluku, pada 8 November 1521. Rombongan pertama penjelajah Spanyol yang tiba di Kepulauan Maluku dipimpin oleh Kapten Joan Sbastian El Cano.


Mengutip modul pembelajaran SMA Sejarah Indonesia (2020) terbitan Kemendikbud RI, tujuan dari kedatangan Bangsa Spanyol adalah untuk mewujudkan semangat 3G, yaitu:


Gold, yaitu mencari emas dan mencari kekayaan (dari perdagangan rempah).

Glory, yaitu mencari keharuman nama, kejayaan, dan kekuasaan (wilayah jajahan).

Gospel, yaitu tugas suci menyebarkan agama Katolik.

Namun, kedatangan Bangsa Spanyol di Maluku ditentang oleh Bangsa Portugis yang telah datang terlebih dahulu di kepulauan paling dicari orang-orang Eropa itu. Portugis menuding Spanyol melanggar Perjanjian Tordesillas.


Alhasil, demi memenangkan persaingan dalam perdagangan rempah, orang-orang Spanyol mendekati Kesultanan Tidore, rival Kesultanan Ternate yang sebelumnya menjalin kerja sama dengan Portugis.


Buntut dari koalisi-koalisi ini adalah permusuhan Ternate dan Tidore yang makin memanas, karena telah dibumbui oleh kepentingan Spanyol dan Portugis di belakangnya. Perang pun tak terelakkan. Di pertempuran itu, Ternate yang dibantu Bangsa Portugis keluar sebagai pemenang.


Akibat kekalahan ini, sejak tahun 1535, Bangsa Spanyol mulai tersisih dari persaingan memperebutkan dominasi perdagangan rempah-rempah di Indonesia.


Akan tetapi, kekalahan dalam perang ini tak serta-merta menjadi penyebab utama mundurnya Bangsa Spanyol dari Indonesia. Faktor lain yang membikin Bangsa Spanyol mundur adalah Perjanjian Saragosa tahun 1535.


Perjanjian Saragosa berisi kesepakatan antara Kerajaan Portugis dan Kerajaan Spanyol dalam pembagian wilayah operasi perdagangan di timur jauh.


Berdasar perjanjian Saragosa, Bangsa Spanyol berhak beroperasi kembali di Filipina, sementara Bangsa Portugis di Kepulauan Maluku. Perjanjian Saragosa sekaligus menandai berakhirnya masa pendudukan Bangsa Spanyol di Indonesia yang terbilang singkat.


Sumber referensi


Effendi, Ahmad, edited by: Idhom, M addi. "Tujuan Kedatangan Bangsa Spanyol ke Indonesia dan Latar Belakangnya". Tirto id. 27 September 2021. 


~Rahmat

Sabtu, 27 Agustus 2022

Polisi dengan seorang tahanan pada tahun 1880.

 Polisi dengan seorang tahanan pada tahun 1880.


Pada masa kolonial Belanda, pembentukan pasukan keamanan diawali oleh pembentukan pasukan-pasukan jaga yang diambil dari orang-orang pribumi untuk menjaga aset dan kekayaan orang-orang Eropa di Hindia Belanda pada waktu itu.


Pada masa Hindia Belanda terdapat bermacam-macam bentuk kepolisian, seperti veld politie (polisi lapangan), stands politie (polisi kota), cultur politie (polisi pertanian), bestuurs politie (polisi pamong praja), dan lain-lain.



📸 Leiden University



Minggu, 21 Agustus 2022

Nasional Gerakan Pramuka.

 Mikul Dhuwur Mendem Jero


Siti Hartinah atau Ibu Tien Soharto lahir di Desa Jaten pada tanggal 23 Agustus 1923 dari pasangan RM Soemoharjomo dan R. Aj. Hatmanti. Ia merupakan anak kedua dari 10 bersaudara. Beliau meninggal di Jakarta, Minggu 28 April 1996 Dimakamkan di Astana Giribangun, Surakarta Ibu Tien menikah dengan Pak Harto, pada tanggal 26 Desember 1947.


Ibu Tien Menghabiskan masa remaja di Wonogiri dan berhasil menyelesaikan sekolahnya di HIS. Pada waktu itu jarak antara rumah dengan sekolah sekitar 5 Km, untuk mencapai sekolah, ia dan kakaknya selalu naik andong. Selama bersekolah ia selalu memakai kebaya, bukan memakai rok. Hanya pada kegiatan kepanduan ia diijinkan oleh ayahnya untuk memakai rok seragam JPO (Javaanche Padvinder Organisatie). Ibu Tien remaja sangat rajin mengikuti latihan-latihan di kepanduan di JPO, oleh sebab itu tidak mengherankan jika dalam dirinya tumbuh tunas-tunas idealisme yang terus berkembang. Fungsi kepanduan yang universal berupa pembinaan budi pekerti, watak, dan karakter sejak usia muda, disiplin dan solidaritas serta tolong menolong, saling hormat menghormati serta saling menyayangi sangat melekat pada diri Siti Hartinah remaja hingga dewasa.



Pada saat menjadi Ibu Negara, Ibu Tien sangat memberikan perhatian dan dukungan kepada Gerakan Pramuka. Beliau beberapa kali menjabat Waka Kwarnas Gerakan Pramuka pada masa bakti 1970 - 1974, 1974 - 1978, 1978 - 1983, 1983 - 1988 dan 1988 - 1993


Salah satu karya Ibu Tien Soeharto untuk Gerakan #Pramuka adalah mendorong agar lahan seluas ± 210 hektar di Cibubur Jakarta Timur yang sebelumnya adalah perkebunan karet menjadi bumi perkemahan bagi anggota pramuka di tanah air. Upaya itu tidak sia-sia, karena lokasi ini kemudian menjadi tempat berkemah dengan fasilitasnya yang terbesar di Asia Pasifik.


Karya lain Ibu Tien untuk Gerakan Pramuka adalah prakarsanya membangun gedung Kwartir Nasional yang lama menjadi Gedung Baru berlantai tujuh belas yang megah yang hingga saat ini menjadi kantor pusat


Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Salam Pramuka..

Kamis, 18 Agustus 2022

KERAJAAN SUPPA

 KERAJAAN SUPPA



Kerajaan Suppa secara astronomi berada pada titik koordinat 03 55"26.40" LS, 11933'59.11" BT. Christian Pelras menggambarkan peran penting Suppa pada abad ke-16 Masehi, menyangkut jazirah selatan Sulawesi. Ia menjelaskan bahwa perdagangan di Siang dan Suppa telah berkembang dengan pesat jauh sebelum Makassar muncul, bahkan kerajaan Gowa dan Tallo pernah berada dalam kekuasaan Siang. Nama Siang (Sciom atau Ciom) pertama kali muncul pada sumber Eropa dalam sebuah peta Portugis yang bertarikh 1540 (Pelras, 1973: 53). Dalam mitologi lagaligo diceritakan bahwa Suppa adalah sebuah kerajaan besar, sangat penting di pantai barat yang berhadapan dengan selat Makassar. Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa persekutuan lima Ajatappareang dapat terbentuk karena adanya prakarsa dari Suppa (Amir, 2013: 52).


Berikut ini jenis temuan arkeologis di wilayah kerajaan Suppa.


1. Makam pra-Islam, diwilayah kerajaan Suppa berupa pemakaman dari wadah tempayan (kremasi) cukup banyak dan tersebar diberbagai tempat antara lain di situs Makkarawie termasuk dalam wilayah Dusun Lekessi Kelurahan Watang Suppa Kecamatan Suppa, situs Langkanange berada dalam wilayah administrasi Dusun Bela-Belawae Desa Polewali Kacematan Suppa, situs Bulu Tanae (Garessi) berada dalam wilayah administrasi Dusun Garessi Desa Lautang Salo, situs Perengki, situs ini berada dalam wilayah Dusun Perengki Desa Tasiwalie Kecamatan Suppa. Ditempat-tempat tersebut ditemukan fragmen tulang manusia yang sudah terbakar dan berasosiasi dengan fragmen keramik dan gerabah, yang terlihat pada pinggir lubang galian ilegal yang dilakukan oleh masyarakat. Selain makam berupa wadah tempayan di situs Langkanange juga ditemukan makam yang orientasinya timur-barat, memiliki nisan menhir dan makam ini masih dikeramatkan oleh mayarakat.


2. Makam pada masa Islam terdapat di situs Jerae, situs ini merupakan kompleks

makam raja-raja Suppa, didalam kompleks makam Jerae terdapat makam Wali

Suppa, Arung Pone Besse Kajuara dan Datu Suppa XX bernama Tenri Awaru.

Pada makam Jarae memperlihatkan nisan Islam dengan tipe Aceh, hulu keris,

pallus berbentuk selinder, gada polos, dan nisan pipih. Hampir semua makam

yang teridentifikasi memiliki motif jirat sulur daun, hiasan medalion

PERLAWANAN RAJA TANETE LA PATAU TERHADAP BELANDA (1826)

 PERLAWANAN RAJA TANETE LA PATAU TERHADAP BELANDA (1826)



Sengketa pertama timbul ketika La Patau menolak panggilan penguasa Belanda yang baru agar berkunjung ke Makassar . Belanda segera mengirimkan ekspedisinya untuk menghukum pemberontak ini, berangkat pada tanggal 31 Mei dengan formasi kekuatan :

Komandan: Mayor TAN COEHOORN VAN HOUWERDA ;

175 prajurit infanteri,

1 perwira dan 25 orang artileri,

2 satu pon,

2 mortir liand,

1 perwira dan 20 prajurit berkuda,

2 kapal perang,

1 kapal perang.

kapal ke Tanette, di mana pasukan mendarat dekat kampung Antje, sementara sekutu lokal Segeri dan Pankadjene, di bawah Asisten Residen MAIJOR Mandalle, dan orang-orang Sidenreng dari dari Barroe. 


Mayor VAN COEHOORN mengirim seorang utusan ke LAPATOEA untuk menyampaikan ultimatum kepada raja Tanete La Patau agar menghindari pertempuran dengan syarat harus membayar denda di samping harus menyerahkan empat orang keluarga raja sebagai sandera. Apabila raja Tanete tidak memenuhi tuntutan itu, Tanete akan diserang dan ditaklukkan. Tetapi kalau raja Tanete menyetujui syarat yang diajukan oleh Belanda, maka sebagian pasukan Belanda akan ditempatkan di Tanete sebagai tentara pendudukan. 


namun La Patau menolak dan utusan kembali dengan tangan kosong. 


Keesokan harinya pendaratan pasukan Belanda didahului dengan tembakan meriam. Tanete mempertahankan diri dengan perlawanan yang seru. Kedua belah pihak menderita kerugian yang tidak sedikit, di pihak Belanda gugur Letnan Burger dan beberapa orang prajurit lainnya. Berkat persenjataan yang lebih unggul, Belanda dapat menaklukkan Tanete.


(De krijgsgeschiedenis van Nederlandsch-Indië van 1811 tot 1894)

Rabu, 17 Agustus 2022

Foto gedung sate dari pesawat Belanda

 Pemandangan Gedung Sate Bandung dilihat dari udara, besar kemungkinan foto diambil dari pesawat militer Belanda, Circa1926.

📸: KITLV Leiden



AKHIR HIDUP RADEN TRUNOJOYO

 AKHIR HIDUP RADEN TRUNOJOYO



Hukuman mati yang dijatuhkan Amangkurat II terhadap Trunojoyo menjadi bentuk eksekusi paling sadis dan mengerikan dalam sejarah bangsa di Indonesia. Raden Trunojoyo atau Trunajaya dihukum mati setelah dianggap menjadi pemberontak di era Kerajaan Mataram di masa Amangkurat I dan Amangkurat II. 


Akhir hidup Trunojoyo yang masih cicit Sultan Agung yang tragis setelah kekalahan dalam perang melawan pasukan Mataram di bawah perintah Amangkurat II yang dibantu VOC pada 27 Desember 1679. Adipati Anom alias Amangkurat II balas menyerang Trunojoyo setelah menandatangani persekutuan dengan VOC


Persekutuan ini dikenal dengan nama Perjanjian Jepara pada September 1677 yang isinya Sultan Amangkurat II Raja Mataram harus menyerahkan pesisir Utara Jawa jika VOC membantu memenangkan terhadap pemberontakan Trunojoyo. 


Trunojoyo yang setelah kemenangannya bergelar Panembahan Maduretno, kemudian mendirikan pemerintahannya sendiri. Saat itu hampir seluruh wilayah pesisir Jawa sudah jatuh ke tangan Trunajaya, meskipun wilayah pedalaman masih banyak yang setia kepada Mataram. VOC sendiri pernah mencoba menawarkan perdamaian, dan meminta Trunojoyo agar datang secara pribadi ke benteng VOC di Danareja. Namun, Trunojoyo menolak mentah-mentah tawaran tersebut

.

Setelah usaha perdamaian tidak membawa hasil, VOC di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Cornelis Speelman mengerahkan kekuatan besar untuk menaklukkan perlawanan Trunojoyo. Di laut, VOC mengerahkan pasukan Bugis di bawah pimpinan Aru Palakka dari Bone untuk mendukung peperangan laut melawan pasukan Karaeng Galesong. Di darat, VOC mengerahkan pasukan Maluku di bawah pimpinan Kapitan Jonker untuk melakukan serangan darat besar-besaran bersama laskar Amangkurat II


Pada April 1677, Speelman bersama pasukan VOC berangkat untuk menyerang Surabaya dan berhasil menguasainya. Speelman yang memimpin pasukan gabungan berkekuatan sekitar 1.500 prajurit mendesak Trunojoyo.


Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo dapat dikepung, dan menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679 kepada Kapitan Jonker. 


Selanjutnya, Trunojoyo diserahkan kepada Amangkurat II yang berada di Payak, Bantul. Pada 2 Januari 1680, Amangkurat II menghukum mati Trunojoyo. Eksekusi hukuman mati yang diterapkan kepada Trunojoyo sangat mengerikan.


Trunojoyo ditusuk oleh Amangkurat II dengan keris Kyai Balabar di jantung hingga menembus punggungnya. Tak puas dengan menusuk jantung, Amangkurat II mencabik-cabik tubuh Trunojoyo. Kebengisan Amangkurat II yang dibakar api dendam menjadi-jadi dengan memenggal kepala Trunojoyo


Selanjutnya, kepala Trunojoyo diletakkan di depan bilik peraduan. Semua orang yang keluar masuk bilik peraduan harus menginjak kepala Trunojoyo. Kepala Trunojoyo kemudian dihancurkan dengan menggunakan lesung dan lumpang batu. Eksekusi hukuman mati terhadap Trunojoyo itu tercatat oleh Raffles dalam buku The Story of Java. 


Sumber: Wikipedia

MISTERI DIBALIK NAMA "INDONESIA"

 Mumpung agustusan, monggo disimak...

anda akan terkagum-kagum


MISTERI DIBALIK NAMA

"INDONESIA"

Pernahkah Kita Menghitung Angka dari

Kata "INDONESIA" ???

SUBHAANALLAH,

Akan di dapat Keajaiban yang luar biasa,

Mari, Kita coba Hitung :

Abjad = Urutan Angka

I : 9

N : 14

D : 4

O : 15

N : 14

E : 5

S : 19

I : 9

A : 1

Dari Semua Angka, yang Muncul Hanya

Angka "1-9-4-5",

Tdk ada angka 2,3,6,7,8

Tentu ini Bukan Kebetulan...

Ini adalah Kehendak dan Karunia dari ALLAH SUBHAANALLAHU WA TA LA.


Mari Coba Kita Jumlahkan semua Angka dari

Kata "INDONESIA", jumlahnya "90",

Dalam AL QURAN, Surat ke-90 adalah

Surat Al-Balad, yang Artinya "NEGARA"

Tentu ini Bukan Suatu Kebetulan ini semua Karunia yang Luar Biasa dari Allah Subhaanallaahu wa taala.

Mungkin ini Juga Jawaban pada HADITS ROSULLULAH yang Mengatakan

Bahwa akan ada Negeri di atas Awan Bernama

Samudra...yang di-Kelilingi Air dan menghasilkan Banyak Ulama...

Ternyata Negeri itu adalah...

INDONESIA

Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur


Mari Indonesiakan Indonesia kita* jangan sia-siakan... mari kita wujudkan Rohmatan lil 'alaamiin...


Wallahu a'lam Bis Shawab


"MERDEKA...."

Dirgahayu Negara Republik Indonesia Ke-77

Jayalah Negeriku

Aksara Sunda Cacarakan

 Aksara Sunda Cacarakan


Salah satu model aksara yang pernah digunakan di tatar Sunda yaitu aksara Cacarakan. Dalam bahasa Sunda “cacarakan” berarti meniru-niru aksara Carakan Jawa. Model aksara ini pernah digunakan abad ke-11 dan abad ke-17 hingga abad ke-19 Masehi atau selama kira-kira 4 abad.


Penamaan aksara Cacarakan menjadi aksara Sunda berasal dari buku karangan G.J. Grashuis berjudul “Handleiding voor Aanleren van het Soendaneesch Letterschrift” (Buku Petunjuk untuk Belajar Aksara Sunda) yang terbit tahun 1860 dan berisi pedoman untuk menuliskan bahasa Sunda dengan menggunakan aksara Cacarakan. 


Dalam perkembangannya, oleh karena itu, aksara Cacarakan disebut pula aksara Sunda. Jadi penamaan tersebut dimulai oleh Grashuis, seorang Belanda yang mempelajari dan menulis buku tentang bahasa Sunda. Penamaan selanjutnya oleh orang Sunda sesungguhnya merupakan “salah kaprah”, karena penamaan yang benar adalah aksara Cacarakan, sesuai dengan bentuknya meniru dari aksara Carakan (aksara Jawa). Dalam hal aksara Cacarakan persentase hasil kreasi orang Sunda hanya sebesar 10%, yakni berupa pengurangan aksara dan sistem pengaksaraannya sesuai kekhasan lafal/bunyi bahasa Sunda yang jumlahnya sedikit saja.



Pada aksara swara Cacarakan huruf /i/ ditulis dengan rangkaian huruf /a/ ditambahkan wulu (Jw) atau panghulu (Sd). Dalam abjad Carakan Jawa tidak digunakan huruf vokal khusus untuk bunyi /e/ (pepet), sedangkan pada Cacarakan huruf /e/ pepet ditulis secara mandiri dengan rangkaian huruf /a/ ditambahkan pepet (Jw) atau pamepet (Sd). 


Huruf vokal lain yang dimunculkan yaitu untuk menggambarkan bunyi [ö] atau huruf /eu/ yang cukup dominan digunakan dalam bahasa Sunda. Huruf /eu/ ditulis dengan rangkaian huruf /a/ ditambahkan tarung (Jw) dan pepet (Jw) atau cukup disebut dengan paneuleung dalam istilah Cacarakan Sunda. Selain dari penggunaan huruf yang berbeda, kaidah penulisan kedua aksara ini juga memiliki perbedaan, yaitu untuk penulisan huruf vokal di awal suatu kata umum. 


Pada aksara Carakan Jawa untuk menuliskan kata dengan bunyi vokal di awal, dapat diwakili dengan huruf /ha/ yang dibaca menjadi /a/. Misalnya kata “aksara” ditulis /haksara/ pada aksara Carakan, sedangkan pembacaannya adalah aksara . Untuk menulis kata yang sama “aksara” dengan aksara Cacarakan menjadi /aksara/ (dengan vokal mandiri) dan tetap dibaca aksara.

Selain pada huruf  Aksara Sunda Cacarakan, modifikasi juga terdapat pada huruf-huruf konsonan. 


Carakan Jawa memiliki 20 konsonan yang digunakan sedangkan pada Cacarakan Sunda hanya 18 huruf saja yang digunakan, mengingat bahwa dua bunyi pada bahasa Jawa (“dha” dan “tha”) tidak digunakan dalam bahasa Sunda. Aksara Cacarakan menggunakan huruf pasangan yang sama dengan Carakan, dengan kaidah penulisan yang sama. Hanya saja berbeda saat pemberian sandhangan (Jw, Sd: rarangkén) digunakan kaidah yang telah dimodifikasi untuk mengkasilkan bunyi vokal bahasa Sunda.


Aksara Cacarakan dengan kaidah di atas digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda modern, setidaknya semenjak aksara ini diperkenalkan kepada masyarakat Sunda sekitar abad ke 17 pada masa pemerintahan Belanda. Sedangkan aksara Carakan yang digunakan di wilayah Sunda untuk menuliskan bahasa Jawa Kuna, masih menggunakan kaidah penulisan dan ejahan sesuai dengan aslinya dari Jawa, seperti yang ditemukan pada naskah-naskah Wangsakerta dari Cirebon.


Saat ini, meskipun telah ditetapkan bahwa aksara Sunda adalah tipe aksara Sunda kuna, tetapi di beberapa daerah aksara Cacarakan masih tetap digunakan. Contohnya seperti di daerah kabupaten Kuningan, yang menggunakan aksara Cacarakan untuk papan nama-nama jalan kota. Di kampung adat Cireundeu, Cimahi, aksara Cacarakan digunakan untuk papan nama di gerbang utama.

UNIKNYA AKSARA JAWA

 

Diakui atau tidak aksara Jawa merupakan alfabet paling unik di dunia ini. 


Ditinjau dari jumlah terdiri dari 20 jenis huruf yang melambangkan 20 jari manusia.


Jari merupakan alat hitung manusia yang paling sederhana dan hal ini melambangkan bahwa dalam menjalani kehidupannya orang Jawa selalu menggunakan perhitungan yang matang sebelum melangkah.


Deretan ke 20 aksara Jawa tersebut yaitu :



1⃣ Ha Na Ca Ra Ka

2⃣ Da Ta Sa Wa La

3⃣ Pa Dha Ja Ya Nya

4⃣ Ma Ga Ba Tha Nga


Entah kebetulan atau disengaja, 

deretan huruf di atas ternyata bukan deretan huruf tanpa makna tetapi membentuk 4 kalimat yang mengandung filosofi luar biasa, yaitu :


Melambangkan perjalanan hidup manusia.


➡ Ha-na-ca-ra-ka 

Jika dibaca Hana Caraka akan bermakna ”Ada utusan"


Siapa yang dimaksud dengan utusan tersebut...? 


Tidak lain adalah "manusia"


Berbeda dengan pendapat umum bahwa utusan Tuhan hanya terbatas para Nabi/Rasul saja, bagi orang Jawa setiap manusia adalah utusan Tuhan.


Setiap manusia berkewajiban hamemayu hayuning bawana menjaga kelestarian alam, memakmurkan bumi, menciptakan kedamaian dan keselamatan di alam dunia.


➡ Da-ta-sa-wa-la


Jika dibaca Dat-a-suwala akan bermaknaa ”Dzat yang tidak boleh dibantah”


Siapa yang dimaksud...? 


Tidak lain adalah "Tuhan Yang Maha Esa". 


Tuhan adalah Dzat yang tidak boleh dibantah oleh manusia yang menjadi utusan-Nya


Sehebat apa pun manusia di bumi ini tidak ada yang mampu menandingi kekuasaan Tuhan


Sekali lagi manusia hanya bersifat sebagai utusan bukan penguasa. 


Oleh karena itu wajib untuk tunduk terhadap aturan yang sudah ditetapkan oleh Sang Pengutus yang sering disebut dengan istilah ”kodrat/hukum karma”


➡ Pa-dha-ja-ya-nya 


Jika dibaca Padha Jayanéakan bermakna ”sama-sama unggulnya”


Siapa yang sama unggulnya...? 


Yaitu "jasmani dan rohani" 


Dalam menjalankan perannya sebagai utusan Tuhan, manusia wajib menjaga keseimbangan antara urusan jasmani dan rohani. 


Seorang manusia tidak dibenarkan berkarya tanpa dilandasi niat Ibadah karena bekerja dengan cara tersebut hanya melahirkan keserakahan yang membuatnya keluar dari tujuan hidup yang sebenarnya.


Sebaliknya manusia juga tidak dibenarkan melakukan sembahyang saja tanpa disertai bekerja.


Orang yang melakukan sembahyang tanpa kerja sesungguhnya termasuk golongan egois. 


Dia hanya mementingkan diri sendiri, dengan harapan ingin masuk surga tetapi tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya termasuk keberadaan tubuhnya. 


Seorang manusia yang baik adalah dia yang bisa bekerja dengan dilandasi semangat ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. 


Yang lebih menarik orang Jawa dalam beribadah tidak mengharapkan pahala karena semboyan hidup mereka adalah "narima ing pandum"


Menerima pemberian-Nya sekali lagi ”menerima” bukan ”mengharapkan”.


➡ Ma-ga-ba-tha-nga


Merupakan singkatan dari Sukma-Raga-Bathang yang bermakna "Roh-Tubuh-Bangkai”


Maksudnya adalah kalimat ini merupakan akhir dari perjalanan manusia sebagai utusan Tuhan di bumi. 


Jika roh meninggalkan tubuh maka yang tersisa hanya tinggal bangkainya saja. 


Dalam keadaan ini manusia sudah tidak lagi disebut manusiakarena eksistensinya telah berakhir.


Kalimat terakhir ini mengingatkan manusia agar tidak terlalu membanggakan dirinya karena jika Sang Roh pergi meninggalkan tubuhnya maka yang tersisa hanya tinggal bangkai saja.


Kalimat ini mengingatkan manusia bahwa tubuh hanyalah kendaraan bagi Sang Roh dalam menjalankan perannya sebagai utusan Tuhan. 


Tanpa roh raga hanyalah bangkai yang tidak berarti.


#sinaunulis

#budayaku 

#nusantaraku

❤🇮🇩

Pangeran Kalinyamat

 PANGERAN KALINYAMAT



(Portugis menyebutnya "rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame,"( "Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.)


Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retno Kencono, puteri Sultan Trenggono, raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat.


Pangeran Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Terdapat berbagai versi tentang asal-usulnya. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang saudagar Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Sunan Kudus.


Versi lain mengatakan, Win-tang berasal dari Aceh. Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah raja Aceh (1514-1528). Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib.


Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri Sultan Demak, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri.


Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara

Selasa, 16 Agustus 2022

SUNAN KUNING

 SUNAN KUNING



Perang Kuning (Geel Orloog) adalah perlawanan aliansi Tionghoa-Jawa melawan VOC. Sebab khusus dari perang ini adalah tindakan VOC yang menyerbu Lasem pada tahun 1679, karena warga Tionghoa di Lasem dianggap menjadi pesaing perdagangan VOC.


Pemimpin Lasem, Raden Panji Margono dan sahabatnya, Oei Ing Kiat memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap VOC. Oei kemudian menghubungi kenalannya, yaitu Tan Kee Wie, seorang pembuat batu bata yang juga merangkap sebagai master Kung Fu. Mereka juga mendapat bantuan Souw Pan Chiang alias Sepanjang dan Tan Sin Ko alias Singshe.


Penguasa Mataram, Pakubuwono II diharapkan ikut membantu, namun dirinya bersikap ambigu dalam peperangan ini. Maka, pasukan Tionghoa-Jawa pun mencabut mandat atas Pakubuwono II dan memilih penguasa baru. Tan He Tik dari pihak Tionghoa menominasikan putra angkatnya yang juga merupakan cucu dari mendiang Amangkurat III, yakni Raden Mas Garendi. Usulan itu disetujui oleh Raden Mas Said dan Patih Notokusumo dari pihak Jawa, karena Garendi adalah mas-mas Jawa yang 'good looking' dan baik hati sehingga mereka yakin ia dihinggapi oleh wahyu keprabon.


Tak menunggu lama, Garendi pun dinobatkan sebagai Susuhunan baru dengan gelar Amangkurat V. Namun, ia lebih dikenal sebagai Sunan Kuning. Pada  30 Juni 1742, Pasukan Sunan Kuning menjebol Keraton Kertosuro dengan meriam dan membakarnya. Pakubuwono II pun melarikan diri ke Pesantren Tegalsari. Pada 11 Desember 1749, Pakubuwono II menyerahkan kedaulatan Mataram pada Gubernur Jendral Hindia Belanda keturunan Jerman, Gustav Wilhelm von Imhoff dan Direktur VOC keturunan Jerman, Wilhelm Heinrich Friso von Nassau Dietz lewat Perjanjian Surakarta.


Sunan Kuning kemudian diasingkan ke Sri Langka setelah pasukan Aliansi Jawa-Tionghoa dikalahkan di Surabaya oleh pasukan gabungan VOC dan Madura. Sebuah petilasan didirikan oleh komunitas Tionghoa untuk dirinya di Kalibanteng Kulon, Semarang Barat. Namun sayangnya, kawasan itu malah lebih populer sebagai tempat lokalisasi.


-Hans

Editor: Manda


Sumber:

Sastronaryatmo, Moelyono (1981). Babad Kartasura II. Jakarta: Balai Pustaka.

Senin, 01 Agustus 2022

PROSES PENCIPTAAN MANUSIA MELALU PENILITIAN ALQUR.AN

 PROSES PENCIPTAAN MANUSIA MELALU PENILITIAN ALQUR.AN


Proses kehamilan adalah proses yang sangat panjang. Al-qur’an bahkan telah menjelaskannya, jauh sebelum ilmuan-ilmuan barat menemukannya setelah proses panjang penelitian. Al-qur’an surat Al-mu’minun ayat 12-14, misalnya. Di dalam 3 ayat tersebut, diterangkan dengan jelas perjalanan kejadian manusia. Dari awal ovum yang dibuahi oleh sperma, sampai terbentuklah bayi yang siap lahir ke dunia.


Ayat 12 berbunyi

 وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ


Artinya: Dan sungguh, Kami telah Menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.


Asal-muasal manusia adalah tanah. Karena kakek moyang pertama kali diciptakan dari tanah. Dari sudut pandang ilmu kimia, kita dapat membandingkan unsur-unsur kimia yang ada dalam tanah yang relatif sama dengan unsur kimia manusia. Dan tak bisa dipungkiri lagi, bahwa manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah.


Proses kedua menurut Al-qur’an surat Al-mu’minun ayat 13 yakni menjelaskan proses awal mula bertemunya sperma dan sel telur, yang berbunyi


ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ


Artinya: Kemudian Kami Menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 


Proses kehamilan berlangsung selama 40 minggu dihitung dari hari pertama mens berakhir.


Dalam proses kehamilan ini, dibagi menjadi 3 fase (biasa disebut dengan trimester), yakni:


1.Trimester pertama (Minggu 0-12), terdapat 3 fase di dalamnya


a.Periode Geminal (Minggu 0-3)


Proses pembuahan pertama


b.Periode Embrio (Minggu 3-8)


Sistem syaraf, organ utama, dan struktur utama mulai terbentuk. Sepertii mata, mulut, sedangkan hati mulai memproduksi sel darah.


c.Periode Fetus (Minggu 9-12)


Periode di mana organ penting terus bertumbuh.


2.Trimester kedua (Minggu 12-24)


Merupakan peningkatan perkembangan janin. Jaringan kuku, indera penglihatan dan pendengaran mulai berfungsi.


3.Trimester ketiga (Minggu 24-40)


Semua organ tubuh telah tumbuh dengan sempurna.


ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ


Artinya: Kemudian, air mani itu Kami Jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami Jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami Jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami Bungkus dengan daging. Kemudian, Kami Menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.


Itulah ayat 14 surat Al-mu’minun yang menerangkan tentang proses kehamilan selanjutnya. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa proses perkembangan bayi dalam rahim persis seperti apa yang digambarkan dalam Al-qur’an. Awalnya, tulang embrio mengeras dan kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang tersebut.


Betapa indahnya Al-qur’an dan betapa beruntungnya orang-orang yang mencintainya. Sebab, dari dalamnya-lah, segala ilmu pengetahuan berasal. Menjadi sumber dari segala sumber yang kan abadi hingga akhir masa.



Lagu Indonesia Raya sempat mengalami beberapa perubahan seiring dengan berjalannya waktu.

 Lagu Indonesia Raya sempat mengalami beberapa perubahan seiring dengan berjalannya waktu. Lagu yang pertama kali diciptakan oleh komponis W...